Kita seringkali berpikir, nilai turun → tambah les pelajaran.
Tapi, riset menunjukkan…
Otak anak butuh fondasi sebelum mengerjakan akademik.
Les olahraga = membangun fondasi.
Les akademik = mengisi bangunannya.
Karena olahraga membangun otak, sedangkan akademik memerlukan otak yang sudah siap. Fondasi yang kuat membuat anak siap menerima berbagai bentuk pembelajaran.

Kenapa olahraga menjadi fondasi bagi anak?
Penelitian menunjukkan bahwa:
-
Aktif bergerak mengaktifkan prefrontal cortex*→ pusat fokus & kontrol diri
-
Olahraga meningkatkan dopamin, serotonin, norepinefrin → anak lebih tenang & mudah belajar**
-
Kombinasi “physical activity + kurikulum akademik” memberikan efek positif terhadap prestasi akademik, terutama pada mata pelajaran matematika.***
Semua hal ini terjadi di otak secara biologis — bukan sekadar opini.

WHO**** juga menyarankan sekolah dan komunitas untuk:
-
Melatih guru mempromosikan aktivitas fisik
-
Membuat ruang & fasilitas untuk gerak
-
Memberi alternatif aman untuk ‘active commuting’ (jalan kaki/naik sepeda ke sekolah)
-
Berkolaborasi dengan komunitas.
WHO menekankan bahwa aktivitas fisik bukan ‘tambahan’ dalam belajar — tapi bagian dari proses belajar itu sendiri.
Lalu, apakah les akademik tidak penting? Nyatanya, les akademik juga membantu:
-
Anak mengulang materi
-
Persiapan ujian
-
Confidence di pelajaran tertentu.
Les akademik tetap bermanfaat — terutama jika anak sudah siap secara mental dan fokusnya stabil.

Pada akhirnya, setiap anak itu unik.
Yang terpenting adalah membantu mereka tumbuh dengan tubuh yang kuat, emosi yang stabil, dan otak yang siap belajar.
Untuk menguatkan ‘fondasi’ sambil membangun ‘bangunan’-nya.