Alysa Liu adalah figure skater dengan bakat dan pencapaian yang memukau. Ia pernah menjadi juara nasional termuda dalam sejarah Amerika. Tentu semua orang melihat masa depan yang besar di depannya. Dan memang hidupnya saat itu juga sangat terstruktur: apa yang dimakan, apa yang dipakai, musik apa yang dipakai untuk tampil, kapan harus latihan.
“The rink was my home for far too long… and I didn’t have a choice” katanya.
Alysa mencintai skating, tapi lama-lama, rasanya seperti hidupnya sudah ditentukan.

Jadi, di usia 16, ia berhenti. Alysa menjauh dari rink sepenuhnya. Dan ia melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak sempat ia lakukan. Pergi traveling. Trekking ke Everest Base Camp. Mewarnai rambutnya. Dan banyak hal eksporatif lainnya.
“Quitting was one of the best decisions I ever made.”
Setelah merasa “penuh”, Alysa kembali ke rink.
“I choose to be here.”
And yes, Alysa kembali ke rink dengan banyak perubahan. Ia memilih musiknya sendiri. Mendesain kostumnya sendiri. Mengatur latihannya bersama pelatih. Dan skating terasa… lebih miliknya!

NOTES:
Kisah Alysa mungkin bukan satu-satunya cara mengejar mimpi. Tentu kami percaya setiap anak punya perjalanan yang berbeda. Tapi kisah ini memberi satu perspektif menarik: Kadang ketika anak merasa punya ruang untuk memilih, hubungannya dengan apa yang ia lakukan bisa berubah.
Dan mungkin sebagai orang tua, kita bisa belajar kapan harus mengarahkan, dan kapan memberi ruang.
Kami percaya, kalian tahu yang terbaik untuk si kecil.