Hello Pyopple! Kali ini kami ingin menceritakan satu kisah tentang Mawar dan inner child yang 'dibangunkan' kembali setelah menjadi orang tua.
Mawar kecil selalu hidup dengan keyakinan bahwa menjadi pintar dan berprestasi akan menyenangkan orang tuanya, dan sebaliknya, memiliki nilai yang jelek akan membuatnya menjadi bahan perbandingan dengan saudara perempuannya.

Ia membawa nilai bahwa kesalahan adalah tanda bahaya dan memberikan rasa tidak aman.
Kita semua membawa cerita masa kecil, yang sudah maupun yang belum benar-benar sembuh.*
Inner-child adalah bagian diri yang menyimpan emosi, kebutuhan, keyakinan, dan pola perilaku masa kecil yang terus mempengaruhi kita hingga dewasa.**
Sejak kecil, Mawar 'belajar' bahwa:
- Kalau mau dicintai, Mawar harus memiliki nilai yang baik
- Tidak bersuara dan selalu menjadi anak penurut itu 'emas'
- Kesalahan = bahaya
Bukan memori, tapi anxiety system yang tersimpan dalam tubuh.***

Seringkali, tanpa disadari Mawar memberikan standard yang sama pada anaknya.
"Kamu harus jadi anak pintar",
"Kalau nilai kamu bagus, itu baru namanya anak Ibu",
"Lihat anak tante Melati, pintar sekali padahal umurnya di bawah kamu".
Padahal, jauh dalam hatinya seringkali ada penyesalan setelah ia mengatakannya.
Karena, ternyata... luka masa kecil itu masih ia bawa dan belum benar-benar sembuh.
Ia berhenti sejenak, menarik napas, dan meminta maaf serta memeluk anaknya, dan berkata,
"Ibu mencintai kamu apa adanya, tanpa standard manapun. Dan... selamanya ibu akan tetap bangga padamu."
Tanpa sadar, ia sedang menenangkan dan memeluk Mawar kecil memberikan cinta yang tidak pernah ia dapatkan.
- Saat jadi orang tua, kita masuk ke hubungan attachment baru. Di sinilah luka lama sering ikut muncul.
- Dalam psikologi, proses ini disebut re-parenting: Proses menyembuhkan diri lewat relasi dengan anak.
- Menurut Dr. Allan Schore & Dr. Bruce Perry, otak yang bisa berubah lewat relasi yang aman, berulang, dan regulatif secara emosi.
- Jadi, saat mengasuh anak, tanpa sadar kita sedang belajar menulis ulang 'script lama' tentang marah dan dicintai.

Inner-child tidak hilang sendiri, ia perlu diakui, dirasakan, dan dibicarakan.
Kita harus sadar akan luka sendiri, mau berhenti, mewariskannya, dan berani membangun pola yang lebih aman. Prosesnya tidak instan, tapi mungkin.
*Loama, R. T., & Suwarjo, S. (2025). Hidden wounds of the inner child: A systematic review on the psychological effects of childhood trauma in adulthood. Indonesian Journal of Counseling and Development, 7(2), 210–224. https://doi.org/10.32939/ijcd.v7i2.6088
**Nopi, N., & Sari, N. (2023). Konsep inner child dalam perspektif psikologi. Jurnal Psikologi, 5(1), 45–58.
***Cross D, Fani N, Powers A, Bradley B. Neurobiological Development in the Context of Childhood Trauma. Clin Psychol (New York). 2017 Jun;24(2):111-124. doi: 10.1111/cpsp.12198. Epub 2017 May 20. PMID: 30906116; PMCID: PMC6428430.